SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Sebanyak 669 sekolah dari tingkat TK hingga SMP terdampak banjir pada akhir November 2025 menyebabkan fasilitas mengalami kerusakan.
Bahkan, hingga kini sekolah yang terdampak tersebut belum memiliki meja dan kursi untuk belajar sehingga siswa harus belajar secara lesehan atau di lantai.
Data Pusat Informasi Posko Bencana BPBD Aceh Utara yang diperoleh Serambinews.com sebelumnya, terdapat 670 satuan pendidikan yang terdampak, terdiri dari 274 PAUD/TK, 271 SD, 102 SMP, serta 23 sekolah kesetaraan.
Selain terdampak secara langsung, berbagai sarana penunjang pendidikan juga mengalami kerusakan.
Tercatat 1.081 set alat peraga pendidikan, 1.812 set mobiler, serta 1.861 unit alat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ikut terdampak banjir.
Tak hanya itu, fasilitas praktikum juga mengalami kerusakan, meliputi 579 set alat laboratorium dan 1.678 set KIT Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Sementara itu, sebanyak 27.602 eksemplar buku turut terdampak akibat genangan air.
Kerusakan ini berdampak langsung pada aktivitas belajar mengajar, terutama bagi ribuan siswa yang tersebar di wilayah terdampak banjir.
Data juga mencatat sebanyak 74.383 siswa dan 9.071 guru ikut terdampak dalam bencana tersebut.
Sementara itu Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, Dr Irhamni, kepada Serambinews.com, Rabu (15/4/2026) mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan terhadap sekolah-sekolah terdampak dan mengusulkan perbaikan kepada pemerintah pusat.
“Kita sudah melakukan pendataan dan sudah mengusulkan. Untuk tahap pertama akan dilakukan perbaikan ruang belajar dulu, karena banyak sekolah di Aceh Utara yang rusak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keterbatasan anggaran daerah menjadi kendala utama dalam percepatan pembangunan kembali sarana pendidikan tersebut, sehingga pemerintah daerah mengajukan bantuan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kita sudah mengusulkan ke APBN, karena dana yang tersedia tidak mencukupi untuk membangun sekolah yang rusak,” tambahnya.
Menurut Irhamni, saat ini proses pengusulan tengah berjalan di tingkat kementerian. Ia optimistis perbaikan ruang belajar dapat segera dimulai setelah penandatanganan kontrak dalam waktu dekat.
“Sekarang sedang berproses, kemudian setelah teken kontrak bulan depan akan dilakukan perbaikan sekolah yang rusak,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengadaan mebeler baru akan dilakukan setelah proses rehabilitasi ruang kelas selesai. Oleh karena itu, pihak sekolah diminta bersabar menunggu tahapan tersebut.
“65.000 kursi dan meja dibutuhkan untuk 669 sekolah yang terdampak banjir, (karena) saat ini siswa masih belajar di lantai,” ujar dr Irhamni.(*). Sumber berita https://aceh.tribunnews.com/